SECARIK KERTAS

Rindu itu menjadi hitam
Di atas meja, sendiri dalam diam
Harapan pun merekah
Aku tahu-abstrak bak liliput yang payah
Aku tahu-salah seperti benar yang kalah
Kertas hadir mengisi absen yang tak luput di bola mata
Buntu- air mata tak kandas pada asa
Tak mengapa, pena memilih jalan sendiri, bukan?
Dia yang tahu, deretan aksara tak akan susut, bukan?
Tak berarti,
Berubahlah,
menjadi peubah
Jangan beharap, kertas akan putih kembali
Seperti gua-pengap, aksara telah bersembunyi
Selembar kertas, menjadi berarti.

Komentar

Postingan Populer