DIA TIDAK CANTIK

Dia benci gadis di dalam cermin itu.
Bekas jerawat yang tak pernah hilang.
Hidung yang kurang sempurna.
Pipi yang terlalu tembam.
Serta luka-luka dalam hati yang tak terlihat.
Lalu, ia menjauhi gadis di dalam cermin itu, kembali bersama ponselnya, menggulir linimasa instagram, melihat foto-foto gadis yang lebih cantik, lalu merutuki fisiknya yang tak seperti itu, terus membandingkan dan membenci dirinya lebih dalam.
Dia tahu kecantikan bukan segalanya. 
Tetapi, mengapa orang-orang menjadikan fisik segalanya?
Begitu tanyanya. maka, tanyaku,
lantas mengapa mempedulikan mereka?
Iya, ada orang-orang yang menjadikan fisik segalanya.
Tetapi, ada juga yang tidak.
Mengapa kamu kurang menganggap orang-orang ini?
Teman-temanmu yang nyata.
Keluargamu yang selalu ada.
Dan, orang-orang baru yang belum menemukanmu.
Dan, jika kamu tidak ingin dinilai berdasarkan fisik, mengapa kamu menilai dirimu berdasarkan fisik?
Coba keluarlah sejenak.
Lihatlah awan-awan di atas.
Ia tak simetris.
Tak selalu berpola.
Nampak berantakan.
Tetapi indah, kan?
Awan tak pernah butuh definisi tertentu untuk jadi indah.
Awan tetap jadi awan.
Menjelma istana kapas.
Indah dan menakjubkan, tanpa butuh standar kecantikan apa pun.
Dulu, ia benci gadis didalam cermin.
Tetapi, hari ini, dia menarik nafas dalam-dalam.
Berusaha tersenyum pada refleksinya.
Berusaha berdamai.
Bekerja sama.
With herself. :) 

Komentar

Postingan Populer